Pendidikan Lebaran Domestik
Oleh Akbar Setia
Praktisi Pendidikan, menetap di Kabupaten Way Kanan
Bukan sebuah keputusan fatal ketika merayakan hari raya secara domestik. Artinya, hari raya tahun ini kita niatkan untuk lokalan saja. Kecuali bagi orang-orang yang memiliki alasan syar’i yang memang sudah wajib untuk merayakan hari raya Idul Fitri secara interlokal. Hal itu bisa dipahami alasan untuk mudik, dengan alasan akan terjadi hal fatal jika merayakan lebaran secara domestik, sehingga, bisa tidak bisa, lebaran akan tetap dilaksanakan di kampung halaman.
Mudik menjelang lebaran memang sudah menjadi ritual rutinitas umum bagi umat yang beragama Islam. Ada keistimewaan dari khalayak publik khusus di beberapa hari menjelang hari lebaran. Bahagia bertemu sanak saudara sudah bisa kita tangkap dari aura yang terpancar wajah-wajah pemudik. Hal ini yang bisa membuat jalan-jalan menjadi padat kendaraan menjelang lebaran. Arus kendaraan akan meningkat tajam sejak hari H min 7 sebelum lebaran atau seminggu sebelumnya. Lalu lintas akan padat, bahkan melihat padatnya kendaraan bermotor meluncur seperti melihat pasukan semut yang sedang berbaris yang berhamburan laksana dikejar makhluk tak kasat mata.
Kecelakaan menjelang lebaran sudah menjadi berita yang bukan asing lagi. Sudah menjadi bagian dari resiko pemudik menempuh jalan raya. Pemicu utama kecelakaan terjadi adalah padatnya kendaraan yang lalu lalang. Tidak sedikit pengendara yang mendadak berubah menjadi stres ketika jalanan yang semula lenggang berubah menjadi kemacetan yang luar biasa. Uji kesabaran dipertaruhkan besar-besaran disini. Yang jadi pertimbangan utama adalah, bertemu dengan sanak keluarga yang dirindukan di kampung halaman. Akan menjadi sebuah hal konyol ketika dalam perjalanan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan karena terjadi kesalahan teknis dalam menempuh perjalanan. Ketika melihat kondisi jalan yang tumpah ruah oleh pemudik lain, kesabaran untuk bertemu sanak keluarga harus bisa mengalahkan potensi emosional yang terpendam dan sedang diuji dengan sajian tipikal pengendara yang memang berbeda-beda cara membawa kendaraannya pastinya. Sabar dijalan raya sudah kunci utama bagi pemudik. Selain sabar, kecepatan dalam membawa kendaraan dan kondisi kesehatan juga dapat menyumbang kesalahan fatal. Oleh karena itu, melaju kendaraan dengan kecepatan sedang tentu lebih menjamin keamanan pemudik. Istirahat cukup dan mengendari kendaraan dalam keadaan sehat atau tidak sedang dalam kondisi mengantuk tentu sangat dianjurkan untuk kebaikan dan keamanan bersama.
Akan sangat bijak jika kita berpikir ulang untuk melakukan perjalanan mudik yang sakral dengan kecelakaan dan kemacetan. Dan jika mengurungkan niat mudik ditahun ini, tentu hal ini sejalan dengan rencana pemerintah yang berupaya meminimalisir angka penyebaran penyakit Corona Virus Disease 2019(Covid-19) yang digencarkan beberapa hari terakhir ini.
Sebuah alasan logis dan pragmatis yang diambil pemerintah, mengingat saat ini, jangankan untuk menyembuhkan semua pasien, mengurangi angka pasien yang tertular pandemi Covid-19 ini saja pemerintah masih belum mampu. Padahal upaya yang dilakukan sudah dari bulan Maret kemarin. Dan sekarang, memasuki pertengahan bulan Mei. Angka penularan terus menanjak naik. Entah bulan berapa grafik penurunan penularan pasien akan terjadi. Sampai saat ini belum ada tanda-tanda terjadi penurunan pasien yang berhasil disembuhkan. Jumlah pasien yang terinfeksi pandemi Covid-19 dari hari ke hari selalu lebih banyak dari pada jumlah pasien yang berhasil disembuhkan. Artinya, ancaman Covid-19 ini benar-benar nyata. Dan sangat logis jika tidak terjadi pencegahan mudik, maka mudik bisa menjadi pemicu membengkaknya pasien yang tertular Covid-19 pasca mudik lebaran.
Oleh karena itu sebuah langkah yang strategis diambil pemerintah untuk mencegah terjadinya mudik besar-besaran. Selain bahaya jalan raya sudah mengincar pemudik, bahaya yang besar adalah bahaya penyebaran Covid-19 yang saat ini adalah musuh kita bersama.
Kerjasama warga masyarakat luas untuk taat dengan peraturan pemerintah tentunya sebagai kunci pengentasan dari solusi untuk mengatasi penyebaran wabah Covid-19 ini tentunya. Untuk itu, anjuran pemerintah dengan larangan mudik, sebaiknya diikuti dan ditaati bersama. Hal ini untuk kebaikan dan keamanan kita bersama.
Anjuran pemerintah untuk menggunakan masker juga masih banyak yang belum dilakukan oleh masyarakat secara luas. Penggunaan masker diberlakukan secara ketat masih di perkantoran dan tempat-tempat yang bersifat formal saja. Untuk tempat-tempat umum, masih banyak warga masyarakat yang belum menggunakan masker. Oleh karena itu, untuk penggunaan masker saya rasa perlu peraturan yang memberikan sanksi bagi warga masyarakat yang tidak menggunakan masker. Karena jika sudah ada sanksinya, bisa jadi ini akan membuat warga masyarakat serius untuk memperhatikan anjuran pemerintah dalam menggunakan masker, dan menggunakan masker merupakan salah satu proteksi pencegahan secara personal yang efektif. Penggunaan masker yang dilakukan secara serentak, akan menurunkan angka penyebaran penyakit Covid-19.
Lebaran Domestik
Sebuah pertanyaan klasik yang sering ditujukan bagi pemudik yang sudah rutin mudik selama puluhan tahun. Lebaran adalah sarana untuk meminta maaf dihari yang suci. Dan bagi pemudik sudah pasti lebaran tidak ada ditempat. Pemudik sedang bermaaf-maafan dengan keluarga yang ada dikampung halaman. Yang jadi pertanyaan, bukankah dosa yang banyak terjadi secara sengaja atau tidak disengaja adalah ditempat domestik? Bukankah kekhilafan banyak terjadi disekitar lingkungan domestiknya?
Hemat saya, tidak ada salahnya dilebaran tahun ini, untuk lebaran dilaksanakan secara domestik. Bermaaf-maafan dengan lingkungan sekitar, dengan tetap memperhatikan aspek jaga jarak atau masker ini akan lebih baik untuk menyuseskan rencana pemerintah untuk mencegah penyebaran Covid-19.
Ada baiknya kita menghormati para tetangga yang ingin bersilaturahmi kerumah dihari pertama lebaran. Ada benarnya kita hargai kawan-kawan yang ingin berkunjung kerumah kita di hari pertama lebaran. Sungguh mulia jika kita luangkan waktu lebaran hari bertama untuk menjenguk tetua-tetua yang ada disekitar kita.
Lebaran domestik adalah sebuah pendidikan yang perlu dilakukan pemudik untuk prioritas lokal dalam merayakan lebaran. Artinya, ini tidak akan dilakukan secara rutin setiap lebaran. Tetapi ini sebagai wujud taat dengan pemerintah dan untuk kebaikan pemudik itu sendiri. Wallahu a’lam.
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Peran Penting Pengawas Jaminan Produk Halal
Oleh Akbar Setia Pengawas JPH Kabupaten Way Kanan Bagi umat Islam, halal bukan sekadar label. Halal adalah kepastian hukum, ketenangan batin, dan perlindungan moral. Setiap kali kita m
9.957 Kuota Sertifikat Halal Gratis di Lampung: Peluang Bagus, Sayang Kalau Terlewat
Akbar Setia Pengawas Jaminan Produk Halal Kabupaten Way Kanan, Waka Humas MTsN 2 Way Kanan Kesadaran masyarakat terhadap produk halal semakin meningkat seiring dengan berkem
Tahun Kabisat Bagi Guru IPA
Akbar Setia Praktisi Pendidikan, menetap di Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung Bagi guru Ilmu Pengetahuan Alam(IPA), tahun kabisat atau dalam bahasa inggris dikenal Leap yea
