• MTS NEGERI 2 WAY KANAN
  • ASRI ( Amanah Sejuk Religius Intelektual )

Bintang Berputar di Kelapa Tujuh

Cerpen AK Bharse Thia

 

            Sejak wabah Covid-19 merambah ke Kelapa Tujuh . Joko sering uring-uringan. Satu bulan lebih tidak bekerja sebagai kuli bangunan. Hutang diwarung Mbak Siti setinggi Gunung Uhud. Belum lagi, tetangga sebelah, Mbak Suli, wajahnya  terlihat masam karena empat arisan belum terbayar.

            “Weh, nek ngeneki carane rusak-rusak pada,” kata Joko pada istrinya.

            “Laiyo kwi, musti miker piye carane golek duet,” timpal Sumini membuat kepala Joko seperti ada bintang berputar-putar di atas kepalanya. “ Jajal sowan gone Mas Slamet, sopo reti enek gawean,” tambah istrinya lagi.

            Dengan lesu, Joko bangkit dari duduknya. Siapa tahu kata Sumini benar. Joko bergegas mengambil kaos berlogo partai dan memakainya. Menuju pohon mangga tempat motornya terparkir, sekaligus sebagai garasi motornya dimalam hari.  Joko menaiki motor yang usinya sudah lebih tua dari pohon mangga itu. Setelah menyambung kabel kontaknya, Joko mulai mengengkolnya.

Jeglek. Jegleek. Jegleek. Motor tak juga hidup. Penasaran digoyang-goyangnya motor tersebut. Joko geleng-geleng kepala perlahan. Hm.. pantas saja motornya tidak bunyi  lha wong bensinnya sudah tamat, geruju Joko kembali menyandarkan motor tersebut ke pohon mangga.

            “ Pripun mas, wonten damelan mboten,” tanya Joko setibanya dirumah Slamet.

            “Lepate Mas Joko, bulan-bulan niki mboten wonten. Njenengan ngertos piambak, gara-gara Corona niki, nopo-nopo mboten angsal, golet duet maleh  uangel poool. Kirangan, podo ngumpet nengendi jane duite,” jawaban Slamet membuat Joko semakin tertunduk lesu. Kemudian mereka ngobrol ngalor-ngidul membahas Corona Virus Disease 2019 yang menyisakan banyak duka untuk nasib pekerja kuli bangunan seperti dirinya. Tak terasa waktu telah sore, dengan langkah gontai Joko keluar dari rumah Slamet yang ada didalam gang sempit. Kemudian melangkah menyusuri trotoar jalan raya.

            Secara tak sengaja Joko melihat seseorang keluar dari Bank sambil membawa bingkisan paket. Entah apa yang ada dipikiran Joko, tiba-tiba terbersit ide untuk memiliki paket tersebut. Harus dicoba, dari pada nyampe rumah tangan kosong Sumini khotbah terus.

            Kalau dirampas terus lari, kemudian orang itu berteriak maling. Resikonya tertangkap. Urusan bisa panjang.  Hm.....yang efektif adalah dengan mendekati dan melihat situasinya terlebih dahulu. Siapa tahu tanda dengan kekerasan barang itu bisa didapatkannya.

            Orang yang membawa paket masih berdiri di tepi jalan depan bank. Perlahan Joko menghampirinya.

            “Mau kemana Pak?” Tanya Joko dengan logat datar. Orang itu pun menengok.

            “Oh...ini mau mengantar paket dari Taiwan untuk orang tuanya, alamatnya di Kelapa Tujuh. Mas paham daerah Kepala Tujuh?” Orang itu balik bertanya.

            “Iya, saya paham. Agak jauh dari sini.  Sekitar 20 menitan kalo naik angkot, ” jawab Joko dengan perasaan senang. Ada kesempatan emas nih, tanpa harus kekerasan pikirnya. Sepertinya, nasib baik berpihak padanya hari itu.

            “Kebetulan Mas. Boleh saya minta tolong, bisa antarkan saya kesana  setelah magrib, soalnya saya mau makan dulu. Sekalian berbuka puasa. Warung yang dekat sebelah mana Mas?” Tanya orang itu lagi.

            “Itu. Kelihatan dari sini. Yang ada terpal biru,” tunjuk Joko ke sebuah warung lesehan di seberang jalan.

            “Ayo,” ajaknya. Tanpa menunggu jawaban Joko orang itu melangkah menuju ke warung lesehan yang ditunjukkan oleh Joko. Joko mengekor dibelakangnya. Setibanya disana, mereka menempati sebuah meja yang ada di sudut belakang.

            “Mas asli sini ya?” tanya orang itu.

            “Iya,” jawab Joko kepalanya mengangguk meyakinkan. Seperti ciri khas orang Indonesia, setiap bilang “iya” kepalanya akan mengangguk otomatis. Tidak lama menunggu, makanan yang dipesan pun sudah diantar disajikan dimeja tempat mereka berdua duduk. Mereka makan bersama dengan lahapnya. Suasana hening sesaat, Joko dan orang itu sibuk mengisi lambungnya masing-masing.

            “Tambah bu, ayam goreng sama nasinya.” Teriak orang itu, memecah suasana.

            “Tambah Mas?” Tanyanya.

            “Tidak, saya sudah kenyang. Soalnya saya hari ini tidak puasa,” jawab Joko sambil menggeleng kepalanya. Seperti ciri khas orang Indonesia ketika bilang “tidak” kepalanya ikut menggeleng. Joko heran, orang pakaian rapih tapi kok makanya banyak sekali. Kayak dua hari belum makan. Terserahlah, toh dia yang bayar nantinya.

             Setelah selesai makan, orang itu mengambil tusuk gigi untuk membersihkan sisa-sisa daging yang tersangkut di sela-sela giginya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Orang itu keluar warung mengangkat telponya. Dari dalam warung Joko bisa melihat orang itu sedang bercakap-cakap dengan seseoarang.

            Anehnya sudah sepuluh menit kok belum selesai. Joko melihat keluar warung. Waduh, orang itu menghilang. Joko gusar. Ah jangan-jangan kabur. Tigapuluh menit berlalu orang itu belum muncul. Joko makin tidak enak, keringat dingin mulai keluar. Jangan-jangan tidak akan kembali lagi pikirnya. Ah tidak mungkin, bingkisan paketnya masih tergeletak di seberang meja tempat Joko duduk.

            Sudah satu jam berlalu, sebentar lagi waktu Isya tiba. Orang itu belum juga muncul. Kecurigaan Joko semakin kuat. Jangan-jangan orang itu tidak kembali lagi.  Tunggulah sampai sholat tarawih selesai pikir Joko.

            Dua jam sudah tidak ada tanda-tanda kemunculan orang itu. Dengan perasaan tidak enak, Joko mengambil bungkusan paket yang terbungkus rapih untuk membukanya. Dibukanya bungkusan itu, ternyata ada pembungkusnya lagi. Dibuka lagi pembungkusnya, ternyata masih ada pembungkusnya lagi. Semakin penasaran Joko dengan isi paket itu. Bungkusan berikutnya dibuka, ternyata isinya sebuah kardus. Dengan perasaan tidak menentu, dibukanya kardus itu.   Mata Joko hampir melompat keluar. Terbelalak   melihat isi kardus. Lembaran uang kertas ratusan tersusun rapih lengkap dengan pitanya. Uang! Ini semua uang! Joko gemetar.  Seperti tidak percaya. Diambilnya satu ikat uang tersebut dimasukkan ke kantongnya. Joko khawatir nanti orang itu datang lagi dalam keadaan terbuka. Dengan tergesa dan gemetaran Joko merapihkan kardus itu. Belum selesai Joko merapihkan kardus itu.  Joko merasa ada benda dingin menempel dipelipisnya. Joko menengok keatas perlahan. Dilihatnya polisi sedang menempelkan pistol ke pelipisnya.

            “Mana yang empat kardus lainnya?” Tanya polisi itu. Orang yang tadi makan bersama Joko sudah ada dibelakangnya.

            “Saya tidak tahu Pak?” Jawab Joko, belum mengerti dengan apa yang terjadi.

            “Mana ada maling yang ngaku Pak, bawa ke kantor biar ngaku,” kata orang pembawa paket itu ke Polisi.

            “Ayo, ikut ke kantor!” Hardik polisi itu. Joko bangkit tergontai, mulai mengerti urusan panjang bakal menghampirinya. Joko merasa seperti ada bintang berputar-putar di kepalanya. Matanya berkunang-kunang.

Negara Harja,  Mei 2020

(tamat)

Komentari Tulisan Ini